UKM Kreatif
UKM Kreatif
Posted by yuswohady in Consumer 3000 Tagged Consumer 3000, creative industry, creative SME, entrepreneur 3000
UKM kreatif? Cool! Kenapa cool? Untuk menjadi pengusaha kelapa sawit Anda butuh lahan ribuan hektar. Untuk menjadi konglomerat otomotif Anda butuh pabrik raksasa lengkap dengan assembly line yang super canggih. Untuk menjadi UKM kreatif Anda cuma butuh dua hal: laptop dan colokan (yes, plus Wifi) di gerai Starbucks. Ya karena pabrik UKM kreatif ada di otak: “Your brain is your factory!!!”
Istilah UKM kreatif saya gunakan mengacu kepada istilah industri kratif (creative industry) yang begitu ngetren lima tahun terakhir. Banyak definisi yang diberikan pakar mengenai industri kreatif, tapi saya menyukai definisi yang satu ini: “creative industry is industry which have their origin in individual creativity, skill and talent. It concerned with the generation or exploitation of knowledge and information”. Jadi modal utama UKM kreatif adalah ide yang diolah di dalam otak kita.
Alat produksi utama dari sebuah UKM kreatif adalah ide/pengetahuan dan proses utamanya adalah menciptakan dan mengolah ide/pengetahuan tersebut menjadi produk dan layanan bernilai tinggi bagi konsumen. Jika Anda seorang arsitek, maka Anda mencipta dan mengolah ide mengenai konsep rumah atau gedung. Jika Anda seorang disainer kaos, maka Anda mencipta dan mengolah ide mengenai konsep desain kaos. Jika Anda seorang pengembang game online, maka Anda mencipta dan mengolah konsep games yang exciting bagi para gamers.
Sektor industri berbasis ide ini mencakup 15-an bidang yang kini sedang hot di banyak negara. Bidang-bidang tersebut adalah: periklanan, arsitektur, seni, kerajinan, disain, fashion, penerbitan, film/video, TV/radio, musik, fotografi, perangkat lunak dan layanan komputer.
Liliput
Kenapa saya sebut UKM kreatif? Ya, karena banyak dari industri berbasis ide/pengetahuan itu berskala liliput alias usaha kecil-menengah, bahkan dikelola perorangan dengan kantor di rumah atau garasi. Bidang-bidang seperti penerbitan, seni, blogging, konten dan aplikasi komputer, disain, kerajinan, semuanya bisa dijalankan dalam skala kecil dengan nilai tambah yang luar biasa. Saat merintis Apple (yup, kini perusahaan terbesar sejagat berdasakan nilai pasar) Steve Jobs dulu memulainya juga dari UKM kreatif liliput.
Saya punya teman sewaktu menjadi aktivis mahasiswa dulu di Yogya namanya Yodhia Antariksa. Entrepreneur hebat pemilik blog strategimanajemen.net ini tiap hari ngantor di rumah. Aktivitas rutinnya adalah membaca dan menulis untuk di-posting ke blog. Melalui blog-nya Yodhia mampu membentuk komunitas solid yang menjadi tulang punggung bisnisnya. Permintaan training dan consulting dari klien banyak diperoleh melalui komunitas online yang dia bangun ini.
Tak hanya Yodhia, saya juga punya banyak kenalan teman-teman mahasiswa di Depok yang sudah coba-coba merintis usaha di bisnis online. Bidangnya macam-macam mulai dari membangun website, layanan social media marketing, social media analitics, atau search engine optimation (SEO). Yang menarik, layanan berbasis ide/pengetahuan dari teman-teman mahasiswa ini telah memiliki demand yang sangat tinggi dan mereka sudah memiliki klien-klien perusahaan besar baik nasional maupun multinasional. Bisnis yang dikembangkan Yodhia dan teman-teman mahasiswa tersebut adalah tipikal UKM kreatif yang kini begitu marak berkembang di negeri ini.
Tentu saja, UKM kreatif tak hanya terbatas di ranah bisnis online. Dagadu di Yogya atau Joger di Bali yang berkreasi untuk mengolah konsep disain kaos melalui kata-kata nakal adalah contoh UKM kreatif. Pengrajin keramik dan grabah di Kasongan Yogyakarta yang terus berkreasi menciptakan disain-desain keramik yang artistik adalah juga contoh UKM kreatif.
Entrepreneur 3000
Akhir tahun lalu saya mengintroduksi fenomena Consumer 3000, yaitu munculnya konsumen kelas menengah di Indonesia yang terjadi seiring dengan tembusnya GDP/kapita Indonesia ke level $3000 pertahun. Kalau pada saat itu saya mengatakan bahwa kelas menengah merupakan konsumen potensial yang mampu menggeliatkan perekonomian Indonesia, maka sesungguhnya kemunculan kelas menengah juga menjadi kekuatan potensial terbentuknya kalangan wirausahawan industri kreatif.
Kenapa? Karena kelas menengah memiliki potensi sebagai entrepreneur berbasis ide/pengetahuan. Mereka knowledgable, berwawasan, berpendidikan, dan yang menarik mereka adalah generasi yang melek teknologi (technology savvy). Itu semua merupakan elemen penting terbentuknya lapis wirausahawan baru yang saya sebut “entrepreneur 3000”. Nah, entrepreneur 3000 inilah yang menjadi sumber dan driver terbentuknya UKM kreatif Indonesia.
Entrepreneur kita mestinya tak hanya didominasi oleh mereka-mereka yang bikin bengkel atau warung Padang, tapi mulai diwarnai oleh entrepreneur berbasis ide/pengetahuan. Mereka adalah para mahasiswa, programer, arsitek, seniman, desainer, musikus, atau konsultan yang memiliki talenta dalam berolah pikir. Kata Richard Florida, mereka adalah “creative class” yang akan menjadi pilar competitiveness bagi negeri ini.
UKM kreatif menyentil otak saya karena minggu ini SBY melakukan resuffle kabinet, dan saya terkejut bukan main, karena industri kreatif masuk dalam sektor yang secara khusus dikelola satu menteri, yaitu Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan Mari Pangestu sebagai nakhodanya. Tentu saja saya berharap kehadiran kementrian baru ini akan melesatkan industri kreatif kita.
Saya juga berharap bu Mari tak hanya sibuk mengurusi industri kreatif yang besar-besar tapi juga peduli pada yang liliput, peduli pada UKM kreatif kita. Viva UKM kreatif Indonesia!!!
Kepepet Vs Iming-Iming
Kepepet Vs Iming-Iming
Ada 2 sebab yg membuat orang tak tergerak untuk berubah. Yang pertama adalah impiannya kurang kuat, yang kedua tidak kepepet. Dua hal tersebut yang seringkali disebut orang sebagai motivasi.
Kesalahan fatal yang timbul oleh sebagian besar motivator ataupun trainer motivasi lainnya adalah hanya menggunakan impian sebagai ‘iming-iming’ untuk menggerakkan audiens.
“Apa Impian anda? Siapa yang impiannya punya mobil mewah? Rumah mewah? atau bahkan kapal pesiar?” Memang, saat di ruang seminar, mereka sangat terbawa dan termotivasi oleh sang motivator. Tapi masalahnya, sepulang dari seminar, mereka dihantam kemalasan, mungkin juga halangan-halangan bahkan seringkali oleh orang-orang yang mereka sayangi. Apa jadinya? Mereka tetap diam ditempat.
Contoh yang kedua, ada seorang salesman yang bekerja di suatu perusahaan. Seperti perusahaan lainnya, mereka menerapkan sistem bonus.
“Jika anda mencapai target yang telah ditentukan, maka anda akan mendapat bonus jalan-jalan keluar negeri!” kata managernya.
“Gimana, semangat?” lanjut manager berinteraksi.
“Semagaat..ngat..ngat!” sambut salesman, sambil mengepalkan tangannya seolah siap tempur. Bulan demi bulan pun berlalu tanpa pencapaian target. Kemudian si manager bertanya,
“Apa bonus yang aku tawarkan kurang besar?”.
“Enggak kok Pak, cukup besar, mudah-mudahan bulan depan tercapai Pak”. Setelah 3 bulan masa ‘iming-iming’ tak berhasil, si manager mulai mengubah strategi. Dia berteriak agak menekan di dalam meetingnya,
“Pokoknya, jika anda tidak bisa mencapai target penjualan yang sudah saya tetapkan, anda saya PECAT!”. Nah, keluarlah keringat dingin si salesman. Sekeluar dari ruangan dia langsung menyambangi calon-calon customernya, kerjanyapun semakin giat. Malas, malu, nggak pe-denya hilang seketika. Kok bisa? Karena KePePet! Yang dia pikirkan, jika dia tidak dapat memenuhi target, dia akan dipecat. Jika dipecat, penghasilannya akan nol.
“Trus anak istriku makan apa?” pikirnya. Anehnya, target penjualan yang selama ini tidak pernah tercapai, bisa juga terlampaui.
Itulah yang disebut The Power of Kepepet. 97% orang termotivasi karena Kepepet, bukan karena iming-iming. Maka dari itu ada pepatah mengatakan bahwa “Kondisi Kepepet adalah motivasi terbesar di dunia!”. Banyak perusahaan mengkampanyekan Visi besarnya kepada seluruh karyawannya. Apa jawab mereka? “Emang gua pikirin!”. Bukannya salah karyawan yang tidak peduli terhadap visi perusahaan, tapi karena visi itu tak terlihat oleh karyawan. Mereka lebih termotivasi oleh sesuatu yang berupa ancaman, baik situasi dimasa mendatang ataupun berupa punishment.
John P. Kotter (Harvard Business Review) mengemukakan ” Establishing Sense of Urgentcy” adalah langkah pertama untuk menggerakkan perubahan dalam suatu organisasi. Dengan melihat ancaman-ancaman terhadap kompetisi dan krisis, membuat mereka tergerak, sebelum mengkomunikasikan “VISI”. “Jika rasa sakit terhadap kondisi sekarang tidak kuat, orang tak akan beranjak untuk berubah”
Jadi analisa kembali kehidupan Anda sekarang ini. Jika Anda tidak mengubahnya, rasa sakit atau kerugian apa yang akan Anda dapatkan dimasa mendatang. Saran saya, jika Anda berada di zona yang sangat nyaman untuk tidak berubah (tidak melihat ancaman), ciptakan sedikit trigger (challenge) misalnya berupa penambahan investasi rumah. Jangan beli rumah yang sesuai dengan kemampuan bayar Anda, tapi ‘sedikit lebih’ dari kemampuan Anda sekarang. Nah, dengan begitu Anda mau nggak mau dipaksa untuk mencari penghasilan tambahan atau mengurangi porsi pengeluaran yang tidak penting. Langkah kedua baru pikirkan nilai investasi itu 5 sampai 10 tahun mendatang, mungkin bisa sebagai solusi pembiayaan uang sekolah anak Anda kelak. Dengan meletakkan porsi dan posisi The Power of Kepepet dan Iming-iming secara tepat, InsyaAllah kita akan selalu termotivasi. FIGHT!
Sumber : Jaya Setiabudi,
Pendiri Entrepreneur Association Coach Entrepreneur Camp
The power of kepepet
The power of kepepet adalah sebuah kekuatan tak terduga, sebab dia muncul bukan dari kekuatan logika matematis, tapi kekuatan kreatifitas yang dipupuk dengan kekuatan spiritual. Kondisi seperti itu, biasanya akan memunculkan kekuatan-kekutan dan keberanian-keberanian yang tak terbayangkan sebelumnya.
ROTI GORENG BISKUIT
ROTI GORENG BISKUIT
BAHAN:
24 buah biskuit cokelat isi krim vanili, siap pakai *)
Minyak untuk menggoreng
2 sdm gula bubuk
Lapisan Kulit:
200 g tepung terigu untuk roti
1 sdm gula pasir
1 sdt baking powder
1/4 sdt garam
2 butir telur ayam
180 ml susu cair
CARA MEMBUAT:
* Lapisan Kulit: Aduk tepung terigu, gula pasir, baking powder, dan garam hingga rata. Ayak. Sisihkan.
* Kocok telur dan susu hingga rata. Tuang ke dalam campuran tepung terigu, aduk hingga rata. Diamkan selama 10 menit. Sisihkan.
* Celup biskuit ke dalam adonan kulit hingga terbalut rata. Goreng dalam minyak banyak dan panas hingga matang dan kuning keemasan. Bolak-balik agar matangnya merata. Angkat, tiriskan. Diamkan hingga dingin.
* Taburi gula bubuk. Sajikan.
*) Biskuit cokelat kopi: Berwarna kehitaman. Bercita rasa cokelat dan kopi pekat dengan isian krim vanili.
Untuk 24 buah
Kalori per buah: 113 kal
Anakku
Ingin Anak Yang Cerdas dan Kreatif ?
Orang tua mana yang tidak ingin punya anak yang anak yang cerdas dan kreatif. Semua orang tua dapat melakukannya jika mau mementingkan dan mengutamakan kebutuhan dan kepentingan anak mulai dari sejak dalam kandungan dan seterusnya.
Kecerdasan multiple adalah berbagai jenis kecerdasan yang dapat dikembangkan pada anak , antara lain ; kemampuan menguraikan pikiran dalam kalimat – kalimat , presentasi , pidato , diskusi. Kemampuan menggunakan logika matematik dalam memecahkan berbagai masalah. Kemampuan berpikir tiga dimensi, kemampuan memahami dan mengendalikan diri sendiri. Ketrampilan gerak , menari , dan olah raga. Kepekaan dan kemampuan berekspresi dengan bunyi , nada , melodi , dan irama. Kemampuan memahami dan memanfaatkan lingkungan.
Kecerdasan multiple dipengaruhi 2 faktor utama yang saling terkait yaitu faktor keturunan (bawaan , genetic ) dan faktor lingkungan. Seorang anak dapat mengembangkan berbagai kecerdasan dengan dasar faktor keturunan dan dengan rangsangan terus menerus oleh faktor lingkungan.
Jangan kuatir untuk orang tua yang kebetulan tidak berkesempatan mengikuti pendidikan tinggi ( belum tentu tidak cerdas, mungkin karena tidak ada kesempatan atau hambatan ekonomi) anaknya bisa cerdas jika dicukupi kebutuhan untuk pengembangan kecerdasan sejak di dalam kandungan sampai usia sekolah dan remaja.
Apa saja yang harus disiapkan?
Tiga kebutuhan pokok yang harus disiapkan untuk menbentuk kecerdasan , yaitu ;
kebutuhan fisik-biologis terutama gizi yang baik sejak dalam kandungan sampai remaja , pencegahan dan pengobatan penyakit yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan ketrampilan fisik untuk melakukan aktivitas sehari – hari.
Kebutuhan kasih sayang yang memberikan rasa aman, terlindungi , dihargai , dan diperhatikan.
Kebutuhan akan stimulasi, sedini mungkin sejak dalam kandungan secara terus menerus dengan berbagai cara untuk merangsang semua system sensorik dan motorik.
Apa pentingnya stimulasi dini ?
Stimulasi dini adalah ransangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir ( yang terbaik sejak janin usia 6 bulan dalam kandungan ) dilakukan setiap hari , untuk merangsang semua system indera ( pendengaran , penglihatan , perabaan , pembau , dan pengecapan) . selain itu perangsangan terhadap gerak motorik kasar dan halus kaki tangan dan jari – jari , komunikasi , dan merangsang perasaan yang menyenangkan dan pikiran bayi dan balita.
Bentuk rangsangan yang diberikan sangat bervariasi dalam berbagai bentuk dengan suasana bermain , menyenangkan dan kasih sayang untuk anak , dengan suasana pola asuh yang demokratik (otoritatif), yaitu pengasuh atau ibu harus peka terhadap isyarat , minat , keinginan dan pendapat anak. Memberi contoh tanpa memaksa , mendorong keberanian untuk berkreasi , memberi penghargaan dan pujian atas keberhasilan dan perilaku yang baik , memberi koreksi, dan bukan hukuman atau ancaman bila melakukan kesalahan.
Stimulasi dilakukan setiap ada kesempatan berinteraksi dengan anak , setiap hari , terus menerus , sesuai umur dan perkembangan kemampuannya , dilakukan oleh keluarga terutama ibu atau pengganti ibu.
Mengapa stimulasi dini dapat merangsang kecerdasan multipel?
Sel otak janin mulai dibentuk saat usia 3-4 bulan dalam kandungan ibu, kemudian setelah lahir sampai usia 3 – 4 tahun jumlahnya bertambah cepat mencapai milyaran sel, tetapi belum ada hubungan antar sel.mulai kehamilan 6 bualn , terbentuk hubungan antar sel, sehingga terbentuk rangkaian fungsi – fungsi. Kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antar sel otak ditentukan oleh stimulasi yang diberiakn pada anak.
Stimulasi dini dan perangsangan kecerdasan
v Dapat dilakukan saat memandikan , menganti popok , menyusui, menyuapi , menggendong , mengajak berjalan – jalan , menonton telivisi , dalam kendaraan , menjelang tidur.
v Membunyikan berbagai suara atau musik bergantian , menggantung dan menggerakkan benda berwarna mencolok (lingkaran atau kotak – kotak hitam putih ), benda berbunyi pada bayi usia 0 – 3 bulan.
v Bermain ciluk ba pada bayi 3 – 6 bulan.
v Memanggil nama , mengajak bersalaman , dan bermain tepuk tangan, membacakan dongeng , meragsang duduk , dan dilatih berdiri berpegangan pada bayi 6 – 9 bulan.
v Bayi 9 – 12 bulan dirangsang dengan mengulang – ulang menyebut nama – nama anggota keluarga , memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, mengelindingkan bola , dilatih berdiri dan berjalan dengan berpegangan.
v Menggambar , mencoret – coret , menyusun kubus , bermain puzzle sederhana , bermain boneka , berjalan tanpa berpegangan , naik turun tangga , melepas celana , mengerti dan melakukan perintah sederhana , menyebut dan menunjuk benda – benda pada usia 12 – 18 bulan.
v Usia 18 – 24 bulan , menyebut dan menunjuk bagian – bagian tubuh, nama – nama binatang dan benda di sekitar rumah , bicara tentang kegiatan sehari – hari ( makan , minum , mandi , main ,dll), bermain bola, melompat , dan memakai celana baju , mencuci tangan.
v Menyebutkan nama – nama teman dan warna, berhitung , menyikat gigi , bermain boneka, masak – masakan , menggambar , berdiri satu kaki , toilet training pada usia 2 – 3 tahun.
v Perangsangan untuk berbicara dan bercerita , menyanyikan lagu anak – anak , bermain puzzle , angka, halma , congklak , kartu , monopoli , computer.
v Bermain bersama anak yang lebih tua dan lebih muda, saling berbagi kue, meminjamakan mainan, mangalah, belajar bekerja sama.
v Memancing agar anak dapat menceritakan perasaan, keinginan ,cita-cita, khayalan pengalamannya.
v Mengajarkan anak menanam biji hingga tumbuh, memelihara tanaman atau binatang , berwisata dan mengenalkan alam semesta .
Belajar Membaca
Belajar Membaca
nakita
- Tores
M ulai usia 8 bulan, bayi bisa, lo, diajarkan membaca. Maksudnya, dikenalkan dengan huruf yang merupakan dasar untuk bisa membaca.
Tapi, sebelumnya ada satu langkah yang harus dilalui bayi agar bisa belajar membaca, yaitu mengenal bentuk dan warna. “Kemampuan ini biasanya didapat bayi ketika usia 6 bulan,” ujar psikolog Lidia L. Hidajat, MPH. Namun rata-rata bayi baru bisa mengenal bentuk dan warna ketika usianya menginjak 8 bulan.
Nah, bila si kecil sudah mengenal bentuk, baru kita bisa perlahan-lahan masuk pada pengenalan huruf. Itu pun biasanya tak langsung, karena buat bayi, melihat huruf yang lurus-lurus saja, belum mengandung makna. Apalagi bila harus diajarkan membaca. Bukankah untuk bisa membaca butuh kemampuan menggabungkan makna?
Itulah mengapa, Lidia berpendapat, “yang lebih efektif sebenarnya bukan mengajari bayi membaca tapi menumbuhkan minat baca pada bayi.” Caranya, kenalkan ia dengan buku. Misal, membacakan cerita atau dongeng. “Bila anak sejak kecil sudah dikenalkan dengan buku, orang tuanya senang membaca, dan di rumahnya banyak buku, biasanya akan menumbuhkan minat baca lebih besar ketimbang anak lain yang di rumahnya tak ada buku sama sekali.”
METODE HOLISTIK
Kendati demikian, tak ada salahnya jika Bapak-Ibu ingin mencoba mengajarkan membaca pada si kecil yang masih imut-imut ini. Toh, tak sedikit orang tua yang berhasil, meski yang gagal juga tak kalah banyak. Namun dalam mengajarkan membaca harus disesuaikan metodenya dengan sifat anak.
Paraahli perkembangan punya pandangan berbeda tentang metode belajar membaca, namun pada intinya ada 3 metode yang bisa dipilih. Pertama, teknik kata global atau metode holistik. Misal, ada gambar sebuah apel dan di bawahnya ada tulisan “apel”. Kedua, metode ABC, yaitu mengenalkan huruf per huruf, “Seperti ini, lo, Nak, yang namanya huruf ‘b’ dan yang ini huruf ‘a’. Bila digabung menjadi ‘ba’.” Ketiga, metode fonetik atau sistem suku kata. Misal, “b-a” sama dengan “ba”, “b-u” sama dengan “bu”; bila digabung jadi “babu”.
Metode mana yang paling efektif tergantung dari sifat masing-masing bayi. Bila ia selalu mengerjakan sesuatu secara perlahan, berarti ia memiliki pola kepribadian cenderung slow, hingga dalam belajar membaca pun ia menyukai yang pelan-pelan seperti metode ABC. Sebaliknya, bila ia biasa menyerap segala sesuatu dengan cepat, metode holistik akan berguna.
Kendati begitu, tutur Lidia, buat kebanyakan bayi, metode holistiklah yang paling cocok, namun dengan menggunakan alat bantu kartu. Misal, gambar apel di kartu. “Dari gambarnya, ia tahu bahwa itu apel, lalu ia akan melihat ada tulisan di bawahnya. Walaupun ia belum bisa membaca, tapi secara tak langsung ada memori dari bentuk huruf itu yang menempel di otaknya.”
AKRAB DI TELINGA
Bersamaan dengan kemampuan bayi menghubungkan huruf, ia juga harus bisa menghubungkan sesuatu. Misal, bila dibawa ke kamar mandi, ia harus tahu kaitan kamar mandi dengan sabun, handuk, sampo, dan lainnya. Oleh sebab itu, pada awalnya, kata yang dikenalkan harus akrab dengannya. Misal, “susu”. Itu,kan, sering sekali terdengar di telinganya. Nah, pilih kartu bergambar botol susu dan di bawahnya ada atau diberi tulisan “susu”. Atau, bila ia sangat suka kala diajak ke Kebun Binatang, ia akan lebih mudah mengenal kata “gajah”, “jerapah”, atau nama binatang lain kesukaannya, karena ia memiliki memori bentuk binatang itu.
Tak demikian halnya bila ia dikenalkan pada kata-kata yang asing baginya. Misal, ia diajarkan kata “demokrasi”, pasti akan lebih sulit mencerna. “Buat anak usia batita atau balita saja masih sulit, apalagi bayi,” bilang Lidia. Jikapun ia bisa membaca dalam arti tahu huruf per huruf, “Oh, ini huruf ‘d’, ini huruf ‘e’, dan seterusnya, bahkan juga tahu bunyinya demokrasi, namun ia belum mengerti maknanya. Itulah mengapa, buku anak selalu mengangkat sekitar kehidupan anak. Inilah yang membuat anak belajar lebih cepat.
Jadi, misal, kata “susu” tadi; setiap kali mendengar kata tersebut, ia melihat ada huruf kayak cacing dengan huruf yang seperti bentuk gelas. Nah, kita tinggal mengenalkan, “Ini, lo, yang namanya huruf ‘s’ dan ini huruf ‘u’.” Lama kelamaan, bila waktunya tiba, ia akan menyerap semua itu tadi.
SUASANA MENYENANGKAN
Dengan melihat rangsangan yang diberikan, sama juga mengirimkan kesan pada otaknya. Biasanya, 40 persen rangsangan tersebut akan menempel juga di otaknya, asalkan rangsangannya berkaitan dengan sesuatu yang dekat kehidupannya dan proses pemberiannya juga menyenangkan. Suatu hari nanti ia akan me-retrieve-nya (mengingat kembali).
Itulah mengapa, ingat Lidia, jangan lupa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan ketika kita mengajarinya membaca. Misal, bayi sangat suka warna-warna terang dengan bentuk yang jelas. Nah, kita bisa membuat huruf dalam ukuran besar dan warnanya ngejreng. Atau, “karpet yang terdiri dari pecahan huruf ‘a’ sampai ‘z’ juga bisa membantu bayi mengenal huruf.”
Selain itu, jangan gunakan paksaan tapi kenali bayi kita karena masing-masing bayi berbeda. Ada bayi yang betah duduk berjam-jam untuk mempelajari sesuatu, ada pula yang tidak. Jadi, Bu-Pak, ikuti saja pola si kecil; kalau ia kelihatan enggak tertarik, ya, tak perlu dipaksa.
Lagi pula, paksaan tak akan efektif. Justru si kecil jadi bosan. Yang lebih parah, ia menganggap, belajar merupakan sesuatu yang tak menyenangkan. “Bila ia sampai menganggap belajar sebagai sesuatu yang memuakkan, entah karena bikin capek, sebel, atau menangis, maka belajarnya tak akan berkelanjutan.” Kalau sudah begitu, susah, lo, untuk menumbuhkan motivasinya lagi. Soalnya, di pikirannya sudah tertanam, “Ah, kalau belajar nanti Mama pasti melotot atau pasti nanti aku kena marah.”
Ingat, lo, jangan sekali-sekali memaksa si kecil belajar membaca, ya, sekalipun usianya sudah di atas 8 bulan. Bukankah konsep belajar pada anak-anak haruslah sesuatu yang menyenangkan, hingga ia jadi terdorong untuk terus belajar?
INTEGENSI BERPENGARUH
Lidya pun mengingatkan agar kita tak perlu ngotot jika belajar membacanya ternyata enggak sukses. “Orang tua harus punya pandangan, kalau belajar membacanya sukses, ya, syukur; tapi kalau enggak sukses, ya, enggak apa-apa.” Soalnya, sukses-tidaknya belajar membaca juga dipengaruhi oleh inteligensi. “Bila anak pada dasarnya punya kapasitas kecerdasan yang baik, proses belajarnya pun akan cepat.” Seperti diketahui, ketika lahir, bayi sudah punya kapasitas kecerdasan yang berbeda-beda.
Kecerdasan, terang Lidia, ibarat sebuah gelas. “Bila gelas itu kualitasnya bagus, tak akan pecah diisi air apa saja, baik panas maupun dingin.” Jadi, jika bayi memang sudah membawa “gelas” berkualitas bagus biasanya akan mempermudah dirinya belajar apa saja, termasuk membaca.
Selain intelegensi, rasa ingin tahu si kecil juga mempengaruhi kecepatannya belajar membaca. Ini tergantung dari sifat anak. Misal, “Ah, aku pingin tahu, apa, sih, yang dijejer-jejer itu? Bunyinya apa, ya?” Tapi ada juga, kan, anak yang cuek saja dalam arti tak tergugah sama sekali rasa ingin tahunya ketika melihat sesuatu yang menarik.
Nah, si kecil Anda termasuk yang mana, Bu-Pak? Coba, deh, amati sebelum Ibu-Bapak akhirnya merasa frustrasi atau malah ngotot memaksa si kecil belajar kala ia tak jua menunjukkan tanda-tanda kesuksesan.
TAK MENINGKATKAN KECERDASAN
Dengan membaca memang bisa memperluas wawasan, tapi bukan berarti belajar membaca akan meningkatkan kecerdasan. Jadi, bila si kecil belum bisa membaca pada masa bayi, tak berarti ia akan lebih bodoh dari teman-temannya. “Belum tentu anak yang sudah bisa membaca ketika masuk SD akan lebih pintar dari anak yang bisa membacanya belakangan,” tutur Lidia.
Untuk melihat cerdas-tidaknya anak, perlu banyak faktor; antara lain kemampuan memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan pemahaman. “Jadi, membaca hanya sebagian kecil dari kecerdasan.” Yang jelas, tandas Lidia, keuntungan dari belajar membaca sejak bayi, anak lebih cepat bisa membaca ketimbang anak lain yang tak belajar sejak dini. Nah, dengan ia bisa membaca lebih awal, ia jadi banyak membaca sejak dini hingga ia pun jadi tahu banyak. Dengan demikian, ia bisa lebih pandai. “Jadi kaitannya mungkin secara tak langsung
Smiley
Cinta Mampu Mengubah Yang Buruk Menjadi Indah
Smiley:
DUA PEMBURU DAN SEEKOR BERUANG
Fabel Aesop (George Flyer Twonsend)
Dua orang pemburu sedang berburu bersama. Tiba-tiba muncul seekor beruang besar
menghadang. Mereka tak sempat mempersiapkan diri. Salah seorang pemburu segera
lagi memanjat pohon dan berdiam mendekam di dahan erat-erat. Melihat dirinya
yang akan diserang beruang itu, pemburu yang lain segera menjatuhkan diri ke
tanah. Ketika beruang mendatangi dan mendengus-dengus seluruh tubuhnya, pemburu
itu menahan nafas selama mungkin. Ia pura-pura mati.
Tak lama beruang itu meninggalkannya. Pikirnya, “Aku tak mau memangsa orang
yang sudah mati.”
Ketika situasi sudah tenang, pemburu pertama turun dari pohon dan mengolok-olok
pemburu yang berpura-pura mati, “Kawan, apa yang dikatakan oleh tuan beruang
tadi padamu.”
“Oh tuan beruang itu memberikan nasehat padaku,” jawab pemburu kedua. “Jangan
pernah berburu dengan orang yang membiarkan kau terancam dan tak menolongmu
dari bahaya.
Smiley…! Kata orang bijak, “Musibah adalah batu ujian bagi persahabatan
Hello world!
Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.
Here are some suggestions for your first post.
- You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
- Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting page you read on the web.
- Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.


